Membandingkan Merampas Kebahagiaan

Ketika mulai berlatih hening, satu hal yang saya sadari adalah pikiran yang mudah tergoda untuk membandingkan diri dengan orang lain. Atau, menilai diri sendiri dibandingkan dengan orang lain, dengan takaran “baik” atau “buruk” di suatu bidang tertentu, dengan mengatakan bahwa diri terlalu malas, terlalu kurus, terlalu gemuk, terlalu keras kepala, dan sebagainya.

Sejak berlatih hening, saya memilih untuk mengurangi membandingkan diri saya dengan orang lain. Ketika pikiran tidak rajin membandingkan, saya merasa lebih tenang. Namun ada bagian di dalam diri saya yang bersuara, kalau mau berubah lebih baik, maka harus membandingkan diri dengan yang lainnya. Dengan tujuan untuk memotivasi.

“Bukankah setiap kita, manusia, yang terlahir di muka bumi ini, unik? Mempunyai panggilan hidup masing-masing?”

Pertanyaan ini perlahan membungkam suara itu.

Salah satu kerja ego adalah membandingkan. Berlebihan membandingkan merupakan kegiatan yang sia-sia dan menguras tenaga. Saya tersadar bahwa pikiran yang terlatih membandingkan ini adalah salah satu hasil dari sistem pendidikan. Kurang lebih seperti yang dikatakan Albert Einstein,

“Kita tidak bisa menghakimi ikan berdasarkan kemampuannya untuk memanjat pohon.”

Setiap anak itu jenius dengan keunikannya masing-masing, tapi malah berusaha diseragamkan. Anak yang berbakat cerdas di bidang seni dan sosial, dipaksa untuk belajar matematika hingga mati-matian. Dibandingkan dengan temannya yang memang berbakat di bidang hitung-hitungan angka. Ditambah lagi ketika nilai matematikanya jelek, ia dihakimi, diejek, dan dikucilkan, hingga ia percaya bahwa dirinya memang anak yang bodoh. Alhasil kemampuan seni dan sosial yang menjadi bakatnya pun malahan ikut meredup.

Keadaan masa anak-anak seperti inilah yang menjadi salah satu penyebab pikiran kita terlatih membandingkan. Rajin dibandingkan, sehingga membandingkan dianggap sebagai cara yang tepat untuk bertahan hidup. Padahal kenyataannya, membandingkan akan menjauhkan diri dari kebahagiaan.

Cara saya untuk mengurangi membandingkan dimulai dengan membiasakan diri untuk jeda, tidak tergesa, menjalani hidup ini. Lalu berlatih menyadari pikiran saya sendiri dalam keheningan. Pikiran memang gemar membandingkan. Tidak apa-apa, pikiran tidak perlu disalahkan. Saya hanya menyadarinya, menemaninya, mengamati pikiran saya sendiri ketika pikiran sudah mulai membandingkan. Pikiran akan semakin menjadi-jadi, kian menguat, untuk membandingkan. Memberikan dorongan besar untuk bereaksi melakukan sesuatu. Tapi dalam hening, saya memilih untuk hanya menyadarinya, menemaninya, menerimanya, memberinya senyuman. Perlahan pikiran membandingkan itu pun akan surut dengan sendirinya. Namun di lain waktu, kegemarannya untuk membandingkan ini pasti akan datang lagi. Begitulah pikiran, tidak bisa sepenuhnya dikendalikan, hanya bisa disadari.

Setelah menyadari bahwa membandingkan adalah resep jitu supaya batin terluka bertubi-tubi, saya belajar sesedikit mungkin membandingkan. Pada saat yang sama, saya menjadi belajar memaafkan diri sendiri dan ikhlas menerima diri apa adanya. Keheningan untuk memaafkan dan mengikhlaskan adalah lentera yang menuntun untuk mencipta bahagia dengan sederhana.

Apakah kamu benar-benar berniat untuk berlatih mengurangi membandingkan, memaafkan diri sendiri dan ikhlas menerima diri apa adanya?

Dapatkan 13 latihan sederhana yang kamu bisa latih di tengah kesibukanmu sehari-hari, untuk menciptakan bahagiamu, sehingga membantu menjaga kesehatanmu, menyembuhkan luka batinmu, meningkatkan produktivitas kinerja karirmu, dan memperbaiki vibrasi energi cintamu, di Sesi Pelatihan Abdi Hening (1 hari) angkatan 2 di Yogyakarta.

Kalau kamu penasaran ingin tahu lebih utuh tentang Sesi Abdi Hening, bisa baca di: Bersama Saya Berlatih Hening 1 Hari

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Archive

Download 4 Ebook gratis di: Download 4 Ebooks Gratis Karya Adjie Silarus