8 Cara Melayani Hinaan

Kamu pernah dihina ‘kan? Atau paling tidak diejek?
Hinaan apa yang masih kamu ingat sampai sekarang?
.
Ketika menjalani arah hidup yang telah kita pilih,
sejauh apapun jarak yang sudah kita tempuh, seindah apapun tujuan yang kita impikan,
kita akan selalu bertemu orang-orang yang menghina, meski mungkin maksudnya hanya bercanda … atau mereka memang sengaja menghina untuk memancing marah kita.
Akan selalu ada juga mereka yang berteriak lantang kalau kita tidak mungkin bisa melakukan yang ingin kita lakukan.
.
Dari hinaan-hinaan yang saya dapatkan, salah satu yang tertancap di ingatan saya adalah dulu saya dihina oleh beberapa teman sekolah saya, di depan banyak orang, dengan memanggil saya, “anak mama”. Istilah yang mereka gunakan karena dianggap saya terlalu taat kepada ibu saya. Tanpa mereka mau tahu latar belakang keluarga saya, ibu saya yang single parent merawat saya.
Ikhlas menerima hinaan bukan perkara yang mudah buat saya. Meski mungkin maksud dari yang melontarkan bukan menghina, tapi hanya untuk mengundang tawa saja. Saya menyadari, semakin tinggi pohon, angin yang menerpa akan semakin kencang. Semakin jauh saya berjalan, semakin bertambah orang yang menentang jalan yang saya pilih. Sampai sekarang saya terus belajar, selantang apapun suara hinaan, jangan sampai membuat ayunan langkah saya terhenti, bahkan jangan sampai laju langkah saya melambat. Kalau saya membalas hinaan, dengan hinaan … berarti saya sama saja dengan mereka, dikuasai rasa benci dan amarah. Saya pun tidak berusaha menghadapi mereka. Saya memilih melayaninya.
.
Bagaimana cara saya melayani hinaan?
Setiap orang punya cara sendiri-sendiri, dan di kesempatan ini, izinkan saya berbagi caranya berdasarkan pengalaman saya dihina selama ini:
.
1. Pertama, saya belajar memahaminya.
Kadang kita tidak menyangka kalau seseorang itu bakalan menghina kita. Karena dia mungkin saja sahabat, saudara, atau seseorang yang kita cintai. Jadi saat dia nyeletuk atau menyampaikan kata-kata bernada pedas, kita langsung percaya, menelannya mentah, dan memasukkannya di dalam hati. Baper.
Ada perbedaan antara memberikan saran yang membangun dengan melempar kritik yang tajam. Saya belajar hanya mendengarkan sepenuh hati apapun yang dikatakan, dan hening … menyadari apapun pikiran dan perasaaan yang muncul di dalam diri. Hanya menjadi saksi, pengamat, atas pikiran dan perasaan. Tanpa bereaksi.
Kalau saya merasa perkataannya membuat hati saya ciut, mematahkan semangat saya, seolah menyuruh saya menyerah … saya perlahan memahami kalau perkataannya hanya sebatas kata-kata yang keluar dari mulutnya, hanya berdasarkan sudut pandangnya, dan belum tentu sama dengan kenyataan yang sebenarnya.
.
2. Apakah dia sebenarnya jujur memberitahu saya apa adanya?
Seperti yang saya katakan sebelumnya, kadang ia yang menghina itu sebenarnya hanya bermaksud untuk jujur memberitahu apa adanya kenyataan yang sedang kita hadapi. Mungkin ia punya alasan yang kuat dan baik sehingga ia perlu menyampaikannya kepada kita.
Saya belajar untuk mengambil jeda, hening, ketika mendapatkan hinaan. Berpikir seobjektif mungkin. Jangan-jangan dia yang saya anggap menghina itu sebenarnya sedang memberitahu saya kenyataan, beserta rintangan, yang ada di depan mata saya, dan harus saya atasi. Kalau ternyata benar seperti itu, saya biasanya perlahan akan mencari cara untuk mengatasinya.
Ada kalanya berhasil, di lain waktu saya pun terjungkal.
Kalau memang yang saya inginkan itu adalah jatah saya, maka rintangan apapun itu akan bisa saya tanggulangi.
Tapi ada juga yang menghina tanpa alasan yang jelas. Berikut cara saya melayaninya.
.
3. Terima apapun hinaan itu hanya sebatas kata-kata.
Ia yang menghina punya cara untuk membawa energi negatif dan memberikannya kepada kita. Ketika itu terjadi, akan muncul benih keraguan dalam diri kita untuk melanjutkan perjalanan hidup sesuai arah yang telah kita pilih. Dan benih ini dapat tumbuh membesar menjadi pohon keraguan yang begitu besar, akar dan ranting-rantingnya mampu menggoyahkan semangat kita.
Saya tidak berusaha menghentikan energi negatif ini, karena semacam hukum alam, semakin saya menghentikannya, maka saya malah akan semakin digulung habis olehnya. Saya memilih untuk menerimanya apa adanya, dan menyadari sepenuhnya bahwa energi negatif itu hanya sebatas kata-kata, tidak lebih dari itu. Hinaan itu tidak punya hak untuk berkuasa atas diri saya.
.
4. Menyadari bahwa akan selalu ada orang yang menghina dalam hidup ini, yang berusaha membuat kita terpeleset, jatuh.
Di setiap cerita hidup seseorang, bisa dipastikan akan bertemu paling tidak satu orang yang menghinanya. Sebagai bonus, malah bisa bertemu lebih dari satu orang yang menghina 🙂
Saya tidak bisa sepenuhnya menghindar dari terkaman orang-orang yang menghina ini. Tetapi saya tidak diwajibkan untuk selalu memasukkan kata-kata mereka dalam hati saya. Saya punya pilihan juga untuk hanya tersenyum, dan membiarkan mereka berbicara sesuai keinginan mereka. Sekali lagi, kata-kata hanyalah sebatas kata-kata. Tidak punya daya yang besar untuk menghentikan langkah saya. Kata-kata tidak akan menguasai saya, kalau saya hanya menyadarinya hanya sebatas kata-kata.
.
5. Ajak berbicara, dan dengarkan sepenuh hati.
Kadang ia yang menghina adalah seseorang yang dekat dengan kita, seseorang yang omongannya tidak bisa kita abaikan begitu saja.
Kalau begitu, cara terindah yang saya lakukan adalah dengan mengulurkan tangan untuk membantunya, daripada melawan untuk mengalahkannya. Sedini mungkin saya membangun niat seperti ini. Membantu, bukan melawan. Membantu dengan mendengarkannya sepenuh hati, lalu perlahan saya sampaikan bahwa apa yang saya lakukan, yang ia hina ini, sangat berarti buat saya. Dan saya tidak akan bisa melakukannya lebih baik lagi tanpa bantuannya.
Saya pun sampaikan kalau saya memahami keraguannya atas kemampuan saya, tetapi saya lebih membutuhkan dukungan dan bantuannya.
Akan lebih baik kalau ia jadi pendukung saya melalui bantuan-bantuan sederhana, daripada jadi yang habis-habisan menghina saya.
.
6. Tertawa bersamanya.
Kadang orang-orang di sekitar kita itu merasa tidak nyaman kalau kita berubah. Jadi dalam rangka meredakan ketidaknyamanannya, mereka melontarkan ejekan atau hinaan untuk kita.
Dengan menyadari ini, hinaan yang saya dapatkan sebenarnya tidak ada urusan dengan saya. Hinaan itu lebih berurusan dengan rasa tidak nyaman yang menghina. Ia bingung, tidak tahu cara lain untuk menyikapi perubahan. Ketika memahami keadaan ini, saya biasanya menanggapi hinaannya dengan tertawa. Dan kalau saya menempatkan hinaannya sebagai lelucon, kadang malah bisa menyadarkannya. Mungkin juga ia masih mengejek, tapi tidak akan bisa membuat suasana setegang sebelumnya. Dan hinannya tidak akan punya daya untuk meruntuhkan semangat saya, kalau saya menjawabnya dengan gelak tawa.
.
7. Mempersiapkan jawaban berkaitan hinaan, dan sampaikan sebaik mungkin kepadanya.
Kadang orang menghina hanya karena salah paham. Mungkin kesalahpahaman tentang keadaan sebenarnya.
Ini adalah cara yang cukup serius. Saya mempelajari hinaannya sejelas mungkin, termasuk latar belakangnya sehingga ia menghina. Lalu saya mempersiapkan jawaban untuk menanggapinya. Saya mempelajari data-data pendukung, dan memahami seluk beluknya. Kalau sudah, saya akan memberitahunya, berbagi wawasan kepadanya. Selama ini, kalau saya melakukannya tidak dikuasai emosi, dengan niat yang baik, sikap yang tulus, ia yang sebelumnya menyerang saya, jadi mau mendengarkan saya, dan bahkan ia jadi berubah pikiran, sepakat dengan saya.
Kalau pun tidak seperti itu, paling tidak saya jadi mendapatkan pelajaran yang bermakna sebagai bekal melanjutkan perjalanan hidup, dan saya tidak membiarkan begitu saja hinaannya menjadi benih keraguan di pikiran saya.
.
8. Yakin saja bahwa yang kita lakukan adalah kebaikan.
Kadang tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menjawab hinaan. Kita tidak bisa menang melawannya, kita juga tidak bisa menghindar darinya, bahkan ada kalanya kita tidak bisa menjawabnya dengan tertawa.
Di situasi seperti ini, saya memilih untuk tidak memikirkannya. Mengabaikan apa yang ia katakan. Dan menyadari sepenuhnya bahwa yang saya lakukan bukanlah perbuatan yang jahat. Sehingga ketika saya terus berjalan ke arah yang telah saya pilih, dan sudah menempuh jarak yang begitu jauh … mengenang pengalaman tetap bertahan di tengah hinaan menjadi sebuah kenangan yang begitu indah.
.
Sekali lagi saya katakan … akan selalu ada yang menghina di hidup ini. Mereka sebenarnya adalah guru yang dihadirkan untuk mengingatkan kita berhati-hati dalam melangkah, dan juga menuntun untuk menyembuhkan luka batin di dalam diri kita.
Akan selalu ada yang menghina, tetapi kalau kita mampu mendengar kata-kata hinaan layaknya mendengar suara menenangkan ombak di pinggir pantai … kita melayani hinaan dengan senyuman.
.
Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Archive
.
Download 4 Ebook gratis di: Download 4 Ebooks Gratis Karya Adjie Silarus