Dikerjakan Satu Per Satu

– Latihan Bahagia

Pikiran manusia mirip dengan komputer.
Komputer mempunyai kemampuan untuk mengerjakan tugas lebih dari satu secara bersamaan, dalam satu waktu. Kendati demikian, memaksanya terus bekerja seperti itu akan membuatnya lekas rusak. Nge-hang.
Begitu pun dengan pikiran manusia.

Karena tergesa ingin menyelesaikan semuanya … ingin segera mencapai target sesuai keinginan … saya seringkali memaksa diri untuk mengerjakan banyak hal secara bersamaan, dalam satu waktu … atau istilahnya adalah multitasking. Makan sambil membaca lini masa social media. Mandi sambil memikirkan impian yang belum terwujud nyata. Tanpa disadari ini menguras tenaga dan melelahkan … tidak hanya raga, juga pikiran. Pada akhirnya akan berdampak pada kesehatan. Kebahagiaan pun malah menjauh.
Kesadaran akan hal ini menuntun saya untuk belajar mengerjakan tugas satu per satu, single-task.

Seminar K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) diadakan ADARO, perusahaan energi pertambangan batubara, beberapa waktu lalu. Pada kesempatan tersebut, saya diundang untuk berbagi yang saya pelajari selama ini. Saya menyampaikan bahwa … kita akan lebih mudah merasa bahagia ketika pikiran kita tidak lelah … dan supaya pikiran tidak lelah, kita butuh mengerjakan tugas satu per satu, single-task … sebisa mungkin mengurangi multitasking.

“Lakukan satu hal di suatu waktu. Single-task. Bukan mengerjakan banyak hal secara bersamaan, dalam satu waktu. Bukan multi-task.
Bahkan ketika kamu menuangkan air ke dalam cangkirmu, sebaiknya kamu hanya menuangkannya … pikiranmu tidak memikirkan hal lainnya, sadar penuh hadir utuh hanya menuangkan air.
Ketika makan, hanya makan. Ketika mandi, hanya mandi.
Ketika baca tulisan ini, hanya baca tulisan ini.
Berusaha tidak melakukan hal-hal kecil lainnya saat makan, atau saat mandi, apalagi saat berkendara. Berupaya tidak memikirkan selain yang sedang dikerjakan. Seperti petuah Zen, “Ketika berjalan, berjalanlah saja. Ketika makan, makanlah saja”, ujar saya, dalam sesi seminar di hadapan 500 karyawan yang mengikuti acara itu.

Sifat alami pikiran memang mengembara ke masa lalu atau masa depan. Baik yang dinilai positif, maupun negatif akan melintas dalam pikiran. Tugas kita adalah melatih kesadaran … hanya mengamati setiap gerak gerik pikiran. Bukan lalu mengendalikannya supaya selalu sesuai keinginan kita.
Ini jalan yang dibutuhkan untuk berlatih mencipta bahagia.

| Sesi Hening

Kalau kamu ingin belajar mencipta bahagia lebih utuh, bisa baca cara daftar sesi hening terdekat di: Jadual Sesi Hening

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Archive