Gembok Berkarat

.

Love Out Loud

.

Ketika musim hujan datang, air yang turun dari langit tidak pilih kasih. Semua yang tidak berteduh akan ia buat menjadi basah. Termasuk gembok yang tergantung di pagar rumah saya. Saya tidak begitu mempedulikan kondisi gembok tersebut. Lalu suatu hari, kira-kira beberapa jam setelah saya bangun tidur, saya berjalan mendekatinya dan maksud hati mau membukanya. Tapi ternyata cukup susah. Tetangga sebelah rumah juga sedang membuka pagar dan dia melihat saya.

“Gemboknya susah dibuka ya, mas?” ia bertanya dengan santainya.

“Iya, mas,” saya menjawab dengan agak terkejut, tapi sambil tetap utak-atik kunci dan gembok.

Melangkah mendekat sambil berusaha membantu saya, dia berkata, “Beberapa waktu lalu gembok rumah saya ini juga gitu,”

“Oya? Kok sama? Kira-kira kenapa ya?” tanya saya penasaran.

Apa yang ia ucapkan selanjutnya telah memberikan pelajaran kepada saya yang lebih luas daripada sekadar permasalahan gembok dan kunci. Pelajaran kehidupan berkenaan dengan diri saya sendiri dan banyak aspek lainnya, termasuk dalam menjalin hubungan dengan orang lain.

Dia berkata, “Susah dibuka karena gembok itu berkarat, mas … Karena sering terkena air hujan, basah, lama kelamaan jadi karatan seperti itu. Padahal cuma setetes demi setetes air hujan tapi berakibat merusak gembok.”

Selang sesaat, saya berhasil membuka gembok pagar rumah saya. Dan kami melanjutkan kegiatan pagi masing-masing.

Saya tertegun. Berkaitan dengan menjalin hubungan baik dengan orang lain, saya mulai menyadari pelajaran penting. yaitu dibutuhkan upaya untuk menyembuhkan kejengkelan sebelum bertambah parah menjadi kebencian. Layaknya gembok yang perlu diselamatkan dari tetesan air sebelum karatan dan rusak.

Racun dari hubungan yang terjalin adalah kebencian. Bahkan dimulai dari kejengkelan-kejengkelan kecil, seperti: Anak saya tidak pernah mau kalau saya suruh membersihkan kamarnya, istri saya tidak pernah mau menyiapkan makan malam di rumah, suami saya lebih memilih nonton bola daripada pergi bersama keluarga, teman saya sering mengejek cara saya berbicara, dan sebagainya. Hingga kejengkelan ini terus bertambah dan membesar menjadi kebencian tak terkendali. Kejengkelan sebagai benih kebencian ini saya rasa semakin berbahaya, karena seringkali tidak saya sadari. Saat itulah, saya mulai jarang melihat senyum di muka saya sendiri, lupa memperdengarkan kata-kata pujian untuk orang lain dari mulut saya, dan sebaliknya, malah lebih teringat akan aroma curiga terhadap sikap dan tingkah laku orang lain.

Saya rasa kamu pernah juga jengkel dengan orang lain karena perihal sepele. Kamu berusaha memakluminya, tapi kadang kamu pun tidak menyadari kejengkelan itu. Hingga tertumpuk bertambah banyak dan meledak tanpa kamu sangka.

Untuk mengatasinya, saya berlatih meditasi dan menyadari benih kebencian ini. Cukup banyak orang sudah gagal di langkah awal ini, tidak menyadari perasaannya sendiri. Saat benih ini terasa ada, sebelum bertumbuh dan semakin parah, segera saya berupaya menyembuhkannya. Cara yang saya lakukan adalah dengan menerima ikhlas orang lain apa adanya atau ajak dia berbicara baik-baik.

Sebaiknya kita saling mengingatkan bahwa dengan menyembuhkan benih kebencian seperti ini, kita sudah turut serta menciptakan perdamaian dunia.

#LoveOutLoud

.

Peringatan kelahiran membuahkan kebahagiaan karena menjadi sadar penuh akan segala yang ada di sini-kini. Napas seolah setiap saat menegaskan akan peringatan kelahiran manusia untuk menyadari kehadiran utuh diri dengan cara yang sederhana. Cerita-cerita pengalaman saya berkaitan dengan seperti itulah yang coba saya hadirkan di kumpulan catatan: Happy Breathing To You. HADIAH untuk kamu yang sudah baca tulisan saya ini: Download GRATIS E-Book Happy Breathing To You – Short Version dengan klik sekarang —> Cara Sederhana Hidup Bahagia

download ebook HBTY